Aspek Kesehatan dalam Diving

by Ridwan Gustiana

published in DiveMag Indo – June 2011

Diving saat ini berkembang sangat pesat seiring dengan berkembangnya wisata-wisata bahari di Indonesia. Perkumpulan selam dan penyelam baru banyak bermunculan membuat diving menjadi sebuah trend baru di masyarakat. Diving tergolong krgiatan di alam terbuka yang aman, namun mempunyai resiko tersendiri dari segi kesehatan di banding kegiatan alam terbuka lainnya. Hal ini terutama berhubungan dengan perubahan fisika dan fisiologi dalam air terhadap udara yang dipakai dan adaptasi fisiologis tubuh terhadap perubahan tersebut. Para calon penyelam atau penyelam aktif harus mengetahui beberapa aspek kesehatan dalam kegiatan ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dalam atau sesudah penyelaman.

KONTRAINDIKASI MENYELAM

Diver pemula biasanya membutuhkan surat keterangan dokter sebagai syarat mengikuti kursus menyelam. Seharusnya surat didapatkan dari dokter yang mengetahui resiko-resiko penyelaman dari segi kesehatan namun, Di Indonesia ini cukup jarang, kecuali dokter tersebut seorang penyelam atau spesialis dalam kesehatan hiperbarik. Oleh karena itu, beberapa kontraindikasi untuk kegiatan menyelam harus diketahui bagi setiap orang yang berkeinginan untuk mengikuti kegiatan menyelam.

Kontraindikasi Absolut

Kontraindikasi absolut adalah keadaan yang mengharuskan seseorang tidak bisa menyelam sama sekali, karena akan membahayakan keselamatannya.

  • Epilepsi: Orang yang mempunyai riwayat epilepsy meskipun terkontrol baik dengan obat anti epilepsy, tidak boleh menyelam karena jika terjadi kejang di dalam air akan berakibat fatal. Kenaikan tekanan di dalam air juga meningkatkan resiko terjadinya serangan kejang di dalam air.
  • Penyakit Jantung. Kematian pada penyelam dengan riwayat penyakit jantung, terutama pada umur paruh baya, cukup tinggi. Sekitar 12%-21% kematian dalam diving berhubungan dengan penyakit jantung, terutama cardiac arritmia, penyakit jantung oroner, atau penyakit pada otot jantung.
  • Kehamilan masih sering menjadi perdebatan dalam kegiatan menyelam. Namun secara garis besar wanita hamil tidak disarankan untuk menyelam terkait dengan perubahan fisiologis tubuh wanita hamil dan efeknya terhadap janin di dalam kandungan.
  • Penyakit telinga tengah akan menyebabkan penyelam tidak bisa melakukan equalisasi, sehingga keadaan tersebut menjadi kontraindikasi dalam diving.
  • Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM): Orang diabetes dengan terapi insulin mempunyai resiko yang tinggi terhadap penurunan kadar gula darah yang dapat menyebabkan kecemasan, rasa bingung sampai tidak sadar, komplikasi tersebut bisa berakibat fatal di dalam air.

Kontraindikasi Relatif

  • Obesitas. Overweight meningkatkan resiko penyelam terkena penyakit dekompresi, sehingga dianjurkan bagi penyelam yang kelebihan berat badan untuk mengurangi waktu penyelaman dan menyelam dengan hati-hati.
  • Kebugaran. Kebugaran tubuh penting dimiliki oleh penyelam seperti halnya kegiatan-kegiatan outdoor lainnya. Salah satu standar yang diberlakukan ialah kemampuan berenang tanpa peralatan sepanjang 200 m.
  • Gangguan Psikiatri. Selain resiko serangan penyakit ketika menyelam efek samping obat-obatan psikiatri juga juga membahayakan penyelam.
  • Riwayat luka tembus di dada/paru-paru. Dengan riwayat seperti itu kemungkinan terdapat scar di paru-paru yang bisa meningkatkan resiko terjadinya pulmonary barotraumas.

Kontraindikasi Sementara

Yang dimaksud disini ialah keadaan yang menjadi kontraindikasi hanya untuk sementara sampai penyakit itu sembuh,yaitu antara lain;

  • Infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) karena meningkatkan resiko penyebaran penyakit ke telinga tengah, dan
  • Barotrauma telinga tengah terutama bila terdapat robekan pada gendang telinga.

PENYAKIT AKIBAT DIVING

Decompresion Illness (DCI)

Penyakit ini terbagi menjadi dua yaitu:

  1. Decompression sickness atau ‘the bends’ ialah suatu kondisi dimana gelembung udara di pembuluh darah menghambat aliran darah sehingga menimbulkan rasa nyeri dan gejala lainnya. Secara sederhana gejala penyakit ini dibagi berdasarkan organ atau system tubuh yang terkena, yaitu tipe 1 (ringan-muskuloskeletal atau persendian) dan tipe 2 (berat- cardiopulmonal dan neurological). Gejala biasanya muncul ketika atau setelah penyelam naik dari kedalaman. Secara umum gejala muncul dalam waktu 6 jam, 50% diantaranya muncul dalam 1 jam pertama. Gejala berhubungan dengan derajat atau tipe penyelaman yang dilakukan, secara umum makin cepat gejala muncul, makin berat gejala yang diderita.
  2. Arterial Gas Embolism disebabkan oleh mekanisme overekspansi gas dalam paru-paru ketika penyelam naik cepat dari kedalaman, dimana gelembung udara masuk ke pembuluh dara vena diteruskan sampai ke otak dan menyebabkan cerebral arterial gas embolism. Secara praktis gejala decompression sickness dan arterial gas embolism sangatlah sulit di bedakan, Sehingga kedua penyakit tersebut kemudian dimasukan sebagai satu penyakit yaitu decompression illness (DCI). Penyakit ini dapat menyebabkan kecacatan permanen dan harus diterapi secara agresif dengan terapi rekompressi, meskipun terlambat. Tanpa terapi rekompressi sebenarnya ada kemungkinan hilangnya gejala dengan sendirinya, akan tetapi dengan terapi rekompressi akan membuat gejala hilang dengan waktu yang cepat. 25% kasus DCI akan meninggalkan gangguan saraf yang permanen meskipun telah diterapi dengan rekompressi.

Tanda dan gejala dari DCI sangatlah bervariasi, sehingga gejala apapun yang tidak diketahui sebabnya, yang muncul setelah diving harus disangka sebagai DCI sampai dibuktikan sebaliknya. Gejala ringan biasaya berhubungan dengan saraf sensoris (kesemutan, rasa baal, terutama pada tangan) dan gejala yang berat berhubungan dengan motorik (kelemahan otot, inkoordinasi otot).

Penanganan pertama DCI ialah dengan memberikan oksigen 100% secepatnya, kadang diperlukan resusitasi jantung paru (RJP) disertai resusitasi cairan tubuh dan pencegahan hipotermia. Namun yang teramat penting tentunya pengenalan gejala secara dini. Penyelam kadang tidak bisa mengenali atau kadang menyangkal masalah yang muncul pada dirinya, karena adanya kemungkinan gangguan kognitif yang disebabkan oleh penyakit tersebut.

Penanganan lanjutan dari pasien DCI tergantung dari beratnya gejala, waktu evakuasi dan penanganan di recompression chamber. Bila penyelaman dilakukan di daerah terpencil, anda harus membuat atau mengetahui rencana evakuasi emergency ke recompression chamber. Di Indonesia sendiri recompression chamber hanya terdapat beberapa di rumah sakit saja, sehingga kadang anda perlu mengetahui dimana fasilitas recompressi chamber terdekat dari awal.

Barotrauma

Didalam air, jika ruangan yang berisi udara dalam tubuh seperti telinga tengah, sinus dan paru-paru tidak terequalisasi maka ruangan tersebut akan terkompresi, yang akan menimbulkan penyakit barotrauma, seperti:

  1. Barotrauma telinga tengah, kasus yang paling banyak dijumpai terutama pada diver pemula. Tanpa equalisasi, gendang telinga akan terdorong kearah telinga tengah berakibat nyeri sampai robek. Bila robek dalam penyelaman biasanya nyeri akan menghilang dengan cepat. Kadang penyelam merasakan rasa asin di mulutnya (darah atau air laut). Air yang dingin bila masuk ke telinga tengah bisa menimbulkan vertigo. Pada pemeriksaan otoskopi biasanya gendang telinga akan terlihat merah dan bila terdapat perforasi, robekan akan terlihat. Barotrauma ringan tanpa robekan biasanya sembuh dalam beberapa hari, tetapi penyelam dengan perforasi gendang teling tidak boleh menyelam lagi minimal selama 4 minggu.
  2. Barotrauma Telinga Dalam. Tekanan tinggi dalam tengkorak yang disebabkan oleh valsalva manouver yang berlebihan bisa mengakibatkan rupture dari organ pendengaran atau kerusakan organ keseimbangan yang berada di telinga dalam. Hal ini mengakibatkan vertigo yang berat dan menyebabkan kehilangan pendengaran. Vertigo harus dibedakan dengan vertigo sementara ketika naik dari kedalaman yang berhubungan dengan jumlah udara yang dialirkan ke telinga tengah berbeda (alternobaric vertigo) antara kiri dan kanan, yang biasanya ini menghilang dalam hitungan menit.
  3. Barotrauma Pulmonum adalah bentuk yang paling serius dan fatal. Jika udara yang berada dalam paru-paru tidak bisa mengalir dengan bebas ketika naik dari kedalaman, udara tersebut bisa keluar melalui jaringan paru yang lemah sehingga menyebabkan pneumothorax (nyeri dada, dan sesak nafas); menyebabkan pneumomediastinum (nyeri dada central, perubahan suara, pembengkakan di leher); atau yang paling serius, masuk ke peredaran darah, menyebabkan emboli udara ke otak dan kadang ke arteri koroner yang menyuplai darah ke jantung. Hal ini terjadi bila seorang penyelam naik dari kedalaman dengan sangat cepat dan mendadak. Penyelam biasanya tidak sadar di permukaan atau beberapa menit setelahnya yang kadang di sertai dengan kejang. Barotrauma pulmonum ringan biasanya menyebabkan gejala yang menyerupai stroke dengan kelumpuhan sebelah (Hemiparesis) dan bicara rero. Penanganan hal ini sama dengan penanganan pada decompression illness.

Penyakit yang Berhubungan dengan Gas

  1. Nitrogen Narcosis. Tekanan parsial nitrogen yang tinggi mempunyai efek yang hampir sama dengan obat-obatan anastesi, menyebabkan penglihatan tunnel (tunnel vision), euphoria, tinnitus, ketidakmampuan mengerjakan tugas yang komplek, kehilangan koordinasi, rasa mengantuk dan mungkin hilang kesadaran. Hiperkapnia (peningkatan CO2 dalam darah) dan kerja berat biasanya memperberat gejala yang bisa bervariasi pada setiap penyelam dan tempat penyelaman yang berbeda (lebih berat pada lokasi yang dingin, gelap dan visibility yang jelek). Gejala biasanya menghilang bila penyelam naik, yang menjadi masalah adalah pengaruhnya pada performace penyelam, yang mengakibatkan DCI atau near drowning.
  2. Hiperkapnia. Karbon Dioksida (CO2) adalah produk utama yang dikeluarkan dalam pernafasan. Penyelam yang bekerja keras menghemat udara dari tanki atau memakai alat scuba yang kualitasnya tidak baik mempunyai resiko terkena ini. Gejala hiperkapnia biasanya ialah sakit kepala, rasa pusing, palpitasi, rasa ngantuk. Kadang juga hiperkapnia bisa menyebabkan sesak nafas, akan tetapi ini sangat jarang pada penyelaman, dikarenakan sensasi sesak nafas di dihambat oleh tekanan parsial oksigen yang tinggi. Ketika di ari penyelam harus berhenti bergerak dan menghentikan penyelaman bila gejala tidak menghilang cepat. Di permukaan gejala akan cepat menghilang ketika penyelam tersebut bernafas dengan udara segar atau oksigen.
  3. Keracunan Oksigen. Oksigen bersifat toksik dalam tekanan parsial yang tinggi, akan tetapi keracunan oksigen sangat jarang terjadi pada penyelaman menggunakan udara normal. Ini disebabkan threshold untuk terjadinya keracunan oksigen akut (sekitar 1,6 atm absolute, ATA) terjadi pada kedalaman 66 meter, dimana nitrogen narcosis lebih mungkin menyebabkan masalah. Namun hal ini tentunya berbeda dengan penyelaman memakai Nitrox. Keracunan Oksigen akut terutama mempengaruhi saraf pusat, mengakibatkan gangguan penglihatan, pendengaran, twitching otot (terutama muka dan diafragma), mual dan kejang. Ini bisa terjadi tanpa peringatan sebelumnya dan bisa berakibat fatal. Bila seorang penyelam mengalami gejala ini, dia harus berhenti bergerak, naik atau mengganti tabung yang mengandung campuran gas dengan kadar oksigen yang lebih rendah.
  4. Hipoksia atau kekurangan oksigen sangat jarang terjadi. Hipoksia akan mengakibatkan kehilangan kesadaran tanpa peringatan sebelumnya. Penyelam dalam (deep diver) yang menggunakan campuran gas dengan kadar oksigen kurang dari 12% di kedalaman, bila dipakai di permukaan akan mengakibatkan hipoksia.
  5. Keracunan Karbon Monoksida (CO) sudah jarang terjadi, terutama sejak para penyelam sadar akan bahaya pengisian udara lewat kompresor. Hal ini terjadi bila pipa penyedot udara terlalu dekat dengan pipa hasil pembakaran mesin kompresor tersebut. Gejala biasanya muncul di kedalaman seperti disorientasi, lupa waktu, inkoordinasi, sakit kepala, dan muntah. Penanganan dengan pemberian oksigen 100%, namun bila gejala menetap maka diperlukan penanganan di ruang rekompressi.

KESIMPULAN

Diving merupakan kegiatan yang aman bila penyelam mematuhi prosedur penyelaman yang berlaku. Asosiasi penyelam professional resmi sudah memberlakukan prosedur yang baik dalam mencegah kecelakaan atau penyakit akibat penyelaman. Namun pengetahuan mengenai kesehatan dalam penyelaman tetaplah harus di ketahui untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan. Dengan mengikuti prosedur diving merupakan kegiatan yang sangat aman dan tentunya menyehatkan.

Note : kalau ada pertanyaan, silahkan post di comment, mudah-mudahan saya menjawabnya

Iklan

Tentang drjack_gustiana

a social entrepreneur, humanitarian worker, dive master, adventurer and medical doctor
Pos ini dipublikasikan di Travel dan tag , , . Tandai permalink.

20 Balasan ke Aspek Kesehatan dalam Diving

  1. sangat bermanfaat…thenks for sharing…

  2. Go Siak Jong berkata:

    Apakah bapak bisa rekomendasikan dokter mana yang lebih menguasai penyakit Barotrauma.,
    Saya mungkin terkena penyakit tsb,terima kasih.

    • drjack_gustiana berkata:

      kalau memang terkena barotrauma, terapinya memang memerlukan hiperbaric chamber, di jakarta yang saya tau ada di Lakespra Saryanto, pusat kesehatan punya angkatan Udara.

      • drjack_gustiana berkata:

        tapi tergantung barotrauma yang kena barotrauma apa, ada juga beberapa barotrauma yang gak perlu hiperbaric chamber. contohhnya yang paling sering saya tangani barotrauma di telinga tengah yang membuat gendang telinga sobek, dalam beberapa minggu bila sobeknya kecil dia sembuh sendiri, tapi kalau sobeknya besar tentunya memerlukan operasi untuk memperbaiki gendang telinganya..

  3. Thontowi Ahmad berkata:

    telinga saya sebelah kanan memiliki lubang yang relatif lebih kecil, semacam ada tonjolan. Tapi selama ini saya mendengar dengan normal. Bila melakukan snorkling atau diving terkadang sering sakit terutama bila suhu air dingin. Penyesuaian tekanan udara dengan menutup hidup dan mencoba mengeluarkan udara melalui telinga sudah dilakukan, cukup membantu tapi rasa sakit masih terasa walaupun bisa saya tahan. Kira-kira apa solusinya ya dok?

    • drjack_gustiana berkata:

      Kalau saya pikir rasa sakit ketika diving kemungkinan memang equalisasi telinga tengah yg gak maksimal. Decent pelan-pelan dengan posisi vertikal dengan kepala di atas sehingga udara akan lebih gampang masuk. Kadang banyak orang kesulitan equalisasi ketika posisi horizontal apalagi kalau turun dengan kepala di bawah dan kaki di atas.

  4. dona berkata:

    Kalau saya terkena sinus, apakah boleh menyelam? Saya baru kena sinus bbrp bulan ini dan pernah coba berenang, setelah beberapa lama memang terasa tdk nyaman di telinga. Tetapi nanti akan hilang sendirinya. Masalahnya sy akan coba menyelam minggu depan. Apa mungkin? Bagaimana dengan snorkling?

    Terima kasih banyak atas penjelasannya

    • drjack_gustiana berkata:

      Selama sinusnya tidak sedang terinfeksi sebenarnya tidak bermasalah untuk diving. Bahaya ketika sinus sedang terinfeksi pada saat diving biasanya tidak bisa berequalisasi, yang seharusnya terjadi secara otomatis. Ketika sinus terinfeksi, hubungan ruangan sinus ke hidung tersumbat sehingga ketika melakukan descent akan terasa sakit di daerah muka atau seputar mata sebelah atas. Bila sinusnya sudah berbulan-bulan tidak terinfeksi seharusnya sih tidak masalah, namun tentunya harus tetap hati-hati karena kadang pada beberapa orang tertentu sumbatan masih ada meskipun tidak total. Jadi bilang saja sama dive master / instructor-nya ketika akan diving sehingga ketika descent/ascent bisa di dampingi agak tidak terlalu cepat.

      snorkeling selama tidak mencoba menyelam ke bawah tidak masalah, karena tidak akan terjadi perubahan tekanan.

  5. Maria berkata:

    Kalau saya 2 tahun lalu melakukan operasi penutupan kebocoran pada jantung dan sekarang saya ingin melakukan diving apakah berbahaya atau tidak? Thx

    • drjack_gustiana berkata:

      diving setelah operasi penutupan kebocoran jantung, kemungkinan besar penggantian katup atau operasi jantung apapun harus diliat masing masing individu. biasanya harus melakukan evaluasi kesehatan jantung pasca operasi terlebih dahulu. biasanya perlu di test melalui stress test (biasanya treadmill) untuk melihat bagaimana jantung coping terhadap exercise. bila tidak ada masalah dengan stress test, perlu di evaluasi juga pengobatan yang di berikan apakah ada kontraindikasi untuk menyelam atau tidak. konsultasikan dengan dokter jantung anda, bila dokter jantung anda bilang fit for exercise, diving sebenarnya low exercise sport di banding lari dan olahraga lainnya. but be cautious.

  6. anis sofianti berkata:

    Dokter,suami saya berprofesi sbg TNI AL,saat ini beliau menempuh pendidkan penyelam,tetapi dlm masa pendidikan suami y sdh 2x msk RS dikarenakn kram pada saat berenang,dan yg sering suami sy keluhkan adlh pd tulang sendix khususx depr pangkal paha ke bawah terasa lemas,sering sekali kesemutan sampi menjalar ke bahu dan kepala.pertanyaan saya,amankah suami saya utk meneruskan pendidikan tsb?terimaksih dan mohon jawabannya

    • drjack_gustiana berkata:

      mba anis mohon maaf replynya terlambat karena kesibukan saya. sepertinya harus di cek secara menyeluruh ya penyebab masalahnya. apakah lemasnya ketika berenang setelah diving? mudah-mudahan by time masalahnya udah selesai..

  7. Ping balik: Kontraindikasi Selam | UKSA-387

  8. Oman berkata:

    Dok, dekompresi bisa terjadi karna jg melakukan aktifitas berat setelah diving(olahraga berat atau semacamnya) kira2 penyebabnya karna suhu tubuh yang meningkat atau detak jantung meningkat sehingga tekanan darah jg meningkat? Mohon dijelaskan dok, sedetail mungkin jg boleh

    • drjack_gustiana berkata:

      decompressi hanya terjadi karena exposure terhadap perubahan tekanan yang tiba tiba, bisa terjadi saat diving karena perbedaan tekanan di tiap 10 meter meningkat 1 atm. peningkatan suhu tubuh atau detak jantung tidak akan menyebabkan decompression illness.

  9. devie berkata:

    kak mw tanya nich,,,
    apa bedanya demam karena infeksi virus..dengan demam karena keracunan gas

    • drjack_gustiana berkata:

      demam karena keracunan gas apa ya. pastinya gejala keracunan gas pasti di sertai dengan gejala lainnya dimana tubuh mencoba menkompensasi nya. kalau demam virus bisa di sertai dengan macam macam biasanya sakit sakit badan.

  10. rafika berkata:

    bagaimanakah kita dapat mengetahui jika seseorang terkena barotrauma selain dengan menggunakan otoskop?

    • drjack_gustiana berkata:

      untuk pastinya barotrauma pada telinga tengan harus di lihat otoskop karena harus liat penampakan gendang teling. tapi kalau ada tinitus, nyeri atau perdarahan juga bisa di prediksi ada gangguan pada membran telinga tengah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s