Menyikapi aksi “mogok” dokter 27 Nopember 2013

Yang terhormat teman-teman sejawat dokter, ijinkan saya berpendapat, mohon maaf bila saya tidak terlalu menyetujui aksi mogok yang dilakukan teman teman tanggal 27 Nopember kemarin. Mohon maaf juga bila pendapat saya berbeda dengan teman teman semua yang mendukung aksi mogok kemarin.

IMHO:

Kita belumlah maksimal menggunakan cara advokasi lain dan terlalu terburu buru memilih mogok sebagai alat advokasi untuk membuat perubahan. Pemilihan aksi solidaritas dengan mogok, meskipun saya yakin kurang dari 5% dari kita yang bisa melakukannya, menurut saya kurang strategis dan tidak dipersiapkan dengan matang. Aksi mogok bukan haram bagi dokter namun harus dipersiapkan jauh-jauh hari karena besar resikonya. Dan pesan yang diterima oleh banyak orang adalah bahasa mengancam, sebuah cara komunikasi negatif yang akan sulit dipahami dan menyebabkan pesan yg ditangkap oleh rakyat jadi salah.

Ketika seseorang mengancam dalam menyampaikan sebuah pesan,  sebelum isinya dibaca, orang tersebut sudah menutup hatinya untuk membaca dan memahaminya. Contoh nyata adalah ketika bahasa ancaman keluar dari Menteri Kesehatan kita “jika dokter mogok saya akan bunuh pelan-pelan”, meskipun maksudnya baik dan disampaikan dalam bercanda, tetap saja yang membaca,  terutama dokter yang di beri pesan,   hampir semuanya menutup dirinya untuk membaca lengkap pesan yang disampaikannya, kemudian mengancam balik dan sebagian menghujat menteri kesehatan kita, karena bahasa yang dipilih oleh Menkes kita adalah bahasa ancaman.

Dengan tidak sadar, dengan maksud mengungkapkan solidaritas kita terhadap saudara kita di Manado, kita memilih bahasa “mogok” meskipun diperhalus dengan istilah tafakur atau meliburkan diri. Pesan yang tersirat dalam kata dan aksi mogok adalah “rasakan bila kami tidak ada”; “bila kami tidak dihargai ketika ada, mungkin akan dihargai ketika kami tidak ada” atau bahasa yang sama yang dipakai oleh menteri kesehatan kita “anda akan saya bunuh pelan-pelan karena tidak ada yang bisa menggantikan kami”.  Sebuah bahasa ancaman yang tidak akan mencapai tujuannya. Yang saya mengerti dalam aksi turun ke jalan kemarin adalah keinginan untuk mengungkapkan bahwa saat ini sistem kesehatan kita yang bobrok perlu diperbaiki, karena perlindungan terhadap kita dan rakyat minim serta  ingin mengungkapkan rasa solidaritas terhadap salah satu dokter yang diperlakukan secara tidak adil. Namun karena pesan disampaikan melalui bahasa/aksi ancaman (mogok) ujungnya juga menuai ancaman dan hujatan kembali,  terutama dari rakyat pengguna layanan kita. Dalam komunikasi efektif bahasa ancaman adalah haram bila kita tujuannya mengajak atau memberikan kesadaran.

Dengan memilih mogok kita seakan melawan seluruh rakyat padahal target advokasinya bukan mereka. Meskipun ada secuil orang yg mendiskreditkan dokter lewat tulisan di media atau dimana saja, namun mereka tidak mewakili rakyat kebanyakan. Mainlah anda ke desa-desa, ngobrolah dengan mereka,  dokter tetap dihargai kok, tentunya bila kita juga menghargai mereka, karena “respect is not given but earned”.  Saya yakin kita bisa turun ke jalan untuk berdemonstrasi  tanpa menutup pelayanan biasa atau tidak perlu mengkomunikasikan bahwa kita hari tersebut mogok, karena pengguna layanan kita banyak sekali. Meskipun kita berdalih bahwa pelayanan emergency tetap buka tapi tetap saja bahasa yg di pilih adalah “Mogok”.

Mengedukasi masyarakat mengenai malpraktek atau apapun itu bisa dengan cara lain tidak perlu dengan mengancam. Menekan pembuat kebijakan untuk sebuah perubahan bisa dengan bahasa yang berbeda agar mendapatkan dukungan dari masyarakat karena jumlah kita tidaklah banyak dibanding 240 juta rakyat Indonesia. Tidak ada perubahan yang instant, perlu waktu dan konsistensi dalam memperjuangkannya. Menggunakan bahasa positif lebih baik daripada bahasa atau aksi negatif. Jangan cuman mencontoh dokter di negara lain yang melancarkan aksi mogok, karena sistem kesehatan mereka berbeda, dan aksi mogok mereka dipersiapakan sangat-sangat matang.

Mengenai media, kita tidak berhitung secara maksimal. Kita sudah tahu kalau buat mereka sebagian besar “bad news is good news”, dan banyak media hanya memberitakan yang baik bila mereka dibayar (mohon maaf bagi teman teman yang berkerja di Media saya mengkritik keras media bukan teman teman yang bekerja di Media). Sehingga ketika bahasa komunikasi yg dipilih salah dan aksi yang diambil kurang simpatik, mereka dengan mudah menggorengnya untuk kepentingan “rating”. Dan kita tidak punya senjata yg cukup untuk mencounternya. Saya setuju dengan isi yg diperjuangkan oleh kita, saya hanya kurang setuju dengan aksi dan bahasa yg dipakai kita yaitu “mogok’.

SJSN di depan mata, UU pendidikan dokter siap diimplementasikan, takutnya kawalan kita para dokter tidak ada karena sibuk dengan issue superfisial yg akar masalahnya adalah bobroknya sistem kesehatan kita. Aksi kemarin seakan mengadukan dokter dengan rakyat, padahal kita butuh dukungan mereka untuk memperjuangkan perbaikan sistem kesehatan kita.

Namun apapun itu, bola sudah digelindingkan dan mulai kemarin resmi dokter masuk ke ranah politik praktis. Jangan kehilangan momentum, terus perjuangkan perbaikan sistem ini dengan berbagai cara. Ayo berstrategi karena lawan kita (pembuatan kebijakan) sedang berusaha mengadukan kita dengan rakyatnya. Ayo turun ke lapangan atau ke jalan, namun ajak masyarakat berjuang bersama dengan tetap lakukan pelayanan karena itu kewajiban yg melekat sejak kita bersumpah. Tidak mudah berjuang dalam cacian dan hujatan, tapi kita, dokter, adalah individu-individu yang cerdas.  Jangan terlalu terbawa emosi karena akan banyak orang yg akan memprovokasi apalagi ada Pemilu di depan mata.

Teruskan memperjuangkan keadilan bagi saudara kita di Manado melalui upaya hukum dan bantu mereka ketika mereka tidak bisa beraktifitas karena terpenjara. IKA FK unpad dan mungkin organisasi lainnya telah mengajak kita memberikan donasi untuk mendukung saudara kita disana selama mereka terpenjara, ayo berpartisipasi…!! Teruskan bersuara melalui media, orasi, tulisan, etc namun tetap lakukan pelayanan.

Ayo berintrospeksi dan belajar berkomunikasi dengan baik, karena saya yakin kasus saudara kita di Manado tidak akan terjadi bila komunikasi berjalan dengan baik. Belajar juga berkomunikasi dengan publik kalau memang kita mau berjuang merubah kebijakan.

Buat teman teman yang bukan dokter, aksi kemarin sebenarnya adalah bagian dari perjuangan kami memperbaiki sistem kesehatan kita yang amburadul. Dalam melakukan pelayanan percayalah kami akan melakukan semaksimal mungkin, namun kadang sistem kesehatan kita membatasi untuk sebuah usaha maksimal. Jika kami salah, kritiklah kami atau bila kami lalai, hukumlah kami,  namun lindungi kami juga dalam melakukan kegiatan kami, ketika kami berusaha menyelamatkan nyawa atau berusaha menyembuhkan penyakit teman-teman atau keluarga teman-teman  semua. Silahkan hujat dan caci kami atas aksi kemarin, namun kami akan tetap mengamalkan sumpah kami berdedikasi untuk kemanusiaan. Dukung dan restui kami dalam mengupayakan perbaikan sistem kesehatan yang menjadi akar masalahnya sehingga keadilan sosial bagi pemberi layanan dan pengguna layanan kesehatan bisa tercapai.

“Dedicatio for humanity”

Iklan

Tentang drjack_gustiana

a social entrepreneur, humanitarian worker, dive master, adventurer and medical doctor
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

26 Balasan ke Menyikapi aksi “mogok” dokter 27 Nopember 2013

  1. eka berkata:

    Nice otokritik Dokter

  2. totok sugiyanto berkata:

    sangat baik dan inspiratif, dokter bukan buruh , tai pekerja profesional yang bermartabat…..Selamat berjuang dookter, sembuhkan kami dan sembuhkan diri anda sendiri..

  3. erwinb berkata:

    mohon ijin share via FB

  4. Jonathan HL berkata:

    Sebenarnya, yg salah adalah Manajemen RS Dr. Kandouw, yg harus dilakukan class action. Tapi justru tidak tersentuh hukum. Mkgn krn mrk Pejabat dan sumber PAD, serta punya kekuasaan + uang, yah ? Yg jd korban selalu rakyat + karyawan (dokter cs)

  5. AE Priyono berkata:

    Dua kali tulisan ini menggunakan kata “bobrok” dan sekali kata “amburadul” untuk menyebut kondisi sistem kesehatan Indonesia. Dua kata yang mengekspresikan negativitas itu adalah penilaian dokter penulis blog ini terhadap sistem di mana dia bekerja. Mungkin dia dokter yang idealis. Tapi bisakah kita mengatakan bahwa tulisan ini mewakili kesadaran kolektif para dokter lainnya? Seberapa banyakkah dokter yang punya sikap kritis terhadap sistem pelayanan kesehatan di Indonesia, dan berusaha untuk ikut mengubahnya? Berapa banyak pula dokter yang justru menikmati keadaan bobrok dan amburadulnya sistem kesehatan Indonesia, demi kepentingan privat mereka sendiri?
    Saya agak takjub membaca blog ini karena langkanya. Jarang dokter punya waktu untuk berbagi pandangan dan berkomunikasi dengan publik. Kesan paling kuat yang tertangkap dari blog ini adalah dipersoalkannnya kebobrokan sistem kesehatan Indonesia. Tapi bagi saya tetap masih kabur, apa dan bagaimanakah sesungguhnya fenomena kebobrokan yang disinyalirnya itu? Bisakah diperjelas, sebobrok dan seamburadul apa jasa publik kesehatan berlangsung — pelayanan rumah sakit, komersialisasi jasa pengobatan, mafia-farmasi, dll. — di negeri ini terjadi? Seberapa parahkah keadaannya sehingga masyarakat dirugikan? Seberapa runyamkah kebobrokan itu membuat para dokter merasa tidak nyaman menjalankan profesi mulianya?
    Persepsi masyarakat selama ini semakin hari semakin negatif terhadap jasa pelayanan kesehatan di berbagai level. Banyak dokter terlibat dalam praktek privatisasi dan komersialisasi layanan kesehatan. Ini semua menjadi penyebab dari pameo yang makin beredar luas bahwa jasa pelayanan kesehatan diselenggarakan sekadar dengan logika bisnis. Akhirnya muncul kesan umum bahwa akses kesehatan berlangsung secara diskriminatif. Hanya mereka yang kaya saja yang bisa membeli layanan kesehatan, karena hanya mereka yang bisa membayar mahal yang bisa mendapatkan pelayanan terbaik. “Orang miskin dilarang sakit, lebih baik langsung mati saja” — adalah sebuah contoh ungkapan pahit mereka yang mengalami diskriminasi layanan kesehatan akibat kemiskinanannya. Reaksi seperti itu mudah dipahami karena mereka mengalami pengalaman langsung bahwa sakit akan berarti seluruh keluarganya menanggung utang dan kemiskinan yang lebih berat. Bahwa rumah sakit dan para dokter yang bekerja di dalamnya menjalankan bisnis kesehatan, bukan pelayanan yang bersifat publik sesuai sifatnya.
    Saya tidak melihat ulasan dokter penulis blog ini membicarakan kebobrokan sistem kesehatan sebagai ada hubungannya atau bahkan berakar pada fenomena privatisasi dan komersialisasi dunia kesehatan. Mestinya tulisan ini menjelaskan itu dengan seterang-terangnya.

    • drjack_gustiana berkata:

      Terima kasih atas komentnya :), ini jadi masukan yang sangat berharga buat saya dan tentunya teman teman dokter semua bahwa informasi mengenai sistem kesehatan lebih banyak berputar putar di kita sendiri. Saya akan coba berkolaboraksi dengan teman untuk menhimpun informasi seputar sistem kesehatan kita yang menurut saya memang tidak berkeadilan sosial. Saya sendiri lebih banyak memberikan informasi dengan cara lain, terutama offline dan tidaklah terlalu masif. Saya senang kembali di ingatkan. Alhamdullillah 🙂 dan sekali lagi terima kasih.

    • Lila berkata:

      saya coba berikan sedikit sepanjang pengetahuan saya, mohon diperbaiki jika ada yg salah.
      jadi begini, sistem kesehatan sejatinya terdiri atas 3 pilar: finance, delivery, dan payment.
      Dari segi pertama, finance, anggaran kesehatan indonesia saat ini hanya berkisar setengah dari yg diamanatkan UU Kesehatan no 36/2009 yakni minimal 5% dari APBN. Bandingkan dgn pendidikan yg mencapai 20% dari APBN. Silakan jg bila ingin dibandingkan dgn negara2 lain berdasarkan %GDP nya. tentu sj bisa diperkirakan apa efek dari kurangnya anggaran kesehatan ini baik dari segi kualitas maupun kuantitas pelayanan kesehatan.

      Poin ke-2: delivery. Hal ini menyangkut distribusi pelayanan kesehatan yg belum merata di indonesia. Msh bnyk pusat2 kesehatan yg kekurangan dokter/bidan. Tenaga medis bukan tdk ada, tp blm meraya. Kenapa? Mungkin jwbnya berkaitan dgn poin ke-3, dan jg fasilitas yg tdk ada (yg lagi2 berkaitan dgn finance di atas). Baiklah, tdk selalu ttg finance, tp referral system di indonesia jg acakadut, penyakit2 biasa yg bs diobati di puskesmas pun pasien pun memeriksa ke RSUD, misalnya, shg pasien di RSUD membludak > pelayanan tdk nyaman, face time dgn dokter sedikit, dll. Di Luar negeri, rata2 referral systemnya sdh baik, shg membludaknya pasien jarang terjadi.

      Yg ke-3, payment. Dari segi payment, tentu sdh banyak didengar bhw honor tenaga kesehatan masih di bwh UMR, dan dirapel bbrp bulan sekali. Tdk usah bicara yg di pedalaman, yg diperkotaan pun silakan ditanya brp yg didapat pada sekali shift jaga. Tidak heran banyak dokter yg bekerja lbh dari 1 tempat agar pendapatannya mencukupi, lagi2 di sini akan mempengaruhi kualitas kerja si dokter. Oh banyak dokter yg kaya raya? Pernah dibayangkan brp tahun dokter tsb sudah bekerja dan bgimanakah pekerjaannya? Tentu jika kita terus menerus bekerja siang dan malam, pendapatan kita akan banyak. Tidak usah bandingkan pendapatan dokter di luar dgn di sini, sangat2 jauh beda, di luar residen bahkan dibayar, di sini? Residen yg membayar (atau jika beruntung melalui tugas belajar bagi PNS). Dokter tugas mulia, shg tdk pantas menerima bayaran? Jwban ini silakan dijawab sendiri 🙂

      Mengenai kerjasama dgn farmasi, ya, memang hal tsb terjadi. Tapi tidak semua begitu. Dan tdk selalu buruk, bila obatnya mmg bgs, lalu diresepkan sesuai indikasi dan kemampuan pasien, apakah hal tsb salah?

      Terakhir, hanya sedikit ingin menyampaikan bahwa mungkin banyak yg mempunyai pengalaman buruk dgn pelayanan dokter, tp tidak selalu merupakan kesalahan dokter, dok ter tak ubahnya pegawai biasa di RS yg bekerja dlm sistem. Dan semoga tdk ada lagi pen-generalisasian thpd dokter atas pengalaman buruk tsb. Terima kasih.

      • drjack_gustiana berkata:

        Terima kasih atas komentnya, setuju dengan pandangannya. Salah satu hal sangat penting anggaran, ketika cakupan pelayanan di tingkatkan tapi anggaran tetap kecil yg di korbankan kualitas ug dampaknya di rasakan langsung oleh pengguna layanan. Selain itu sistem pendidikan kedokteran yg komersial tapi produknya harus produk sosial, menurut sangat bertolak belakang, tentunya dirasakan langsung oleh para calom dokter yg semakin tertekan karena biaya pendidikan yg sangat tinggi tapi dihargai rendah oleh penggunananya, dokter memilih menjadi swasta sehingga bisa menentukan harga sendiri atau mengabdi pada rs swasta yg sebenarnya secara financial menguntungkan pemiliknya saja dari segelintir warga menengah yg tercover asuransi swasta. Kualitas Pelayanan kesehatan diberikan berdasarkan status ekonomi rakyat yang akhirnya transaksi menjadi transaksi jual beli, kualitas baik bila harga mahal, rumah sakitpun di buat kelas berdasarkan kemampuan pasien membayar langsung atau premi asuransi. Masih banyak lagi yg harus di tata, insyallah saya akan coba memotivasi diri sendiri dan teman teman lain untuk memulai kembali membahas, berdiskusi mengenai sistem kesehatan kita, juga termasuk lewat tulisan.

  6. difa berkata:

    ijin share ya mas

  7. ermanto berkata:

    dari awal saya sangat yakin. banyak dokter itu baik dan hebat. sangat setuju dengan pemikiran anda. sayapun berppikir begitu. dari segi marketing kegiatan mogok sangat negatif. tidak menjadikan rakyat sebagai konsumen. tapi musuh.

  8. Novie Astrini berkata:

    demonstrasi terjadi karena mampetnya saluran komunikasi, atau komunikasi tidak mampet tapi yang berdemo kekeuh ingin menyampaikan atau mewujudkan maksud dan tujuannya. dokter adalah manusia-manusia cerdas dengan latar belakang pendidikan tinggi, yang tentunya banyak tahu cara menyampaikan pendapat, dan demonstrasi adalah cara terakhir dari begitu banyak cara.
    dan mengenai kebobrokan dan keamburadulan sistem kesehatan di Indonesia seperti yang disoroti di tulisan ini, dari sudut pandang para dokter, sebenarnya yang ideal yang bagaimana sih?

    • drjack_gustiana berkata:

      Justru itu mba novi, saya mengotokritik kalau kami memang harus meningkatkan skill komunikasi kami apalagi bila terjun dalam dunia advokasi. Saya selalu percaya bahwa “it’s not WHAT to say but HOW we say it”, tapi kadang gagal karena terburu buru ingin menyampaikan pendapat, yang akhirnya pesan yg diterima berbeda. Salah satu penyebabnya mungkin karena permasalahan di sistem pendidikan kami yang sangat fokus sama hard skills yang memang cukup rumit, sehingga soft skill kami kurang berkembang, salah satunya skill komunikasi.

  9. Airin Rachmi Diani berkata:

    ditanya pendapat soal dokter mogok praktek. Ini jawaban saya:

    solidaritas? mbuh. Saya ngerasa ini cuma semacam bisul yang udah lama nunggu waktunya pecah. Pemicunya terlalu sepele kalo cuma 1 kasus. Terlalu sering jadi bantalan ketika pelayanan tidak sesuai harapan. Apalagi dokter yang ditugasi di daerah. Dari bawah ada harapan pasien, dari atas ditekan budget yang udah digerogotin tikus2 anggaran. Belum lagi tekanan hati nurani. Udah sekola susah-susah-mahal-mahal, gaji tak seberapa masak obat dan alat yang layak buat pasien jadi tanggung jawab dokter juga? Perlu komitmen dan motivasi yang gak luntur sampe jenjang kedokteran itu kelar. Apalagi setelahnya?Jadi dokter di indo belom tentu kaya. Kalo kepercayaan pasien (yang dulu jadi motivasi dokter) udah gak ada, dokter kerja buat apa? ketauan jadi artis. Awam, walau gimana pun medis itu produk industri teknologi. Masih inget kan, faktor-faktor produksi dalam hubungan industri? googling, gih.

    • drjack_gustiana berkata:

      Terima kasih atas komentnya :), kasus di Manado memang sepertinya hanya pemicu saja, benihnya memang sudah banyak. Ditekan didalam sistem baik pendidikan dan ketika bekerja akhirnya pecah. Mudah2an kami bisa lebih sabar lagi dan bisa memperjuangkan perubahannya, meskipun sulit, namun insyallah kami akan terus berusaha. Berstrategi lebih baik dan juga bisa didukung publik. Mohon maaf kalau saya kurang memahami faktor2 industri karena sejak meninggalkan SMA praktis kami hanya belajar biologi, kadang hitung2an pun kalah dari anak SD :). Insyallah saya google 🙂

  10. ibnu berkata:

    Maaf dok, dokter selalu membahas kata ‘mogok’ apa dokter kurang jelas ya… berkali2 dijelaskan bahwa itu bukan mogok. Dan itu bukan tindakan mengancam, kami semua memperjuangkan sesuatu yang mengancam jiwa kami juga dlm bertugas. Anda mgkn mudah saja berpendapat, tp apakah anda ada solusi utk mengatasi hal yg sedang terjadi saat ini… jd klo anda pny solusi silahkan dtg menemui PB IDI, dan jalankan aksi anda. Apa yg mrnt anda bisa anda lakukan dan katakan pd mereka anda tdk setuju dgn apa telah kami lakukan..

    • drjack_gustiana berkata:

      Dear Dok, mohon maaf bila saya berpendapat beda, karena saya dan mungkin publik membaca seruan IDI untuk meliburkan diri di hari kerja adalah seruan mogok. Saya memakai bahasa “kita” karena saya pun ikut bersalah., tidak melakukan usaha yang maksimal untuk mendukung perubahan dalam sistem kesehatannya. Ini adalah otokritik dan positifnya buat saya adalah agar lebih memicu diri sendiri untuk terus melakukan berusaha maksimal berjuang untuk perubahan.Pendapat saya, kita tidak bisa membuat perubahan maksimal kalau publik tidak mendukungnya bila dari awal kita sudah berhadap2an sangat sulit memperjuangkannya. Insya allah saya akan mencoba berhubungan dengan IDI untuk bisa memberikan pendapat agar bisa berstrategi dengan baik mudah mudahan mereka bisa menerima kritikan dan berstrategi lebih baik. Terima kasih sudah mengingatkan.

  11. masawep berkata:

    Di awal, saya termasuk org yg mendukung gerakan kawan2 dokter memperjuangkan ‘persamaan hak’ di depan hukum. Mengharap agar hukum bijak dalam menghukum.
    Namun beberapa jam kemudian, berbagai status, twit, komen berseliweran di sosmed saya. Bukan cuman satu, tapi banyak sekali yg menulis dgn nada menyerang. Rekan2 dokter mulai menulis betapa ‘mulia’nya profesi mereka bagi kemanusiaan, dan mulai pula memaki2 profesi2 lain. Teman2 mulai merapatkan barisan, “With us, or with them”. Rekan2 wartawan tersinggung, rekan2 polisi tersinggung, nyaris semua profesi dihajar. Pdhl semua tau, ketidakadilan ini memuakkan, tp menyikapinya dgn berlebihan jadi malah menjijikkan.
    Lihatlah, berapa banyak jurnalis yg dituntut, disidang, dan dihukum karena lalai dlm menjalankan profesinya. Pun begitu polisi, pengacara, jaksa, bahkan hakim agung sendiripun bisa dituntut, disidang, dan dihukum bila terbukti lalai dalam menjalankan profesinya.
    Jika memang merasa tidak bersalah, berbantahanlah di ranah hukum. Anda disediakan panggung bernama pengadilan. Kawan2 dokter pun tiba2 menjadi lebay, melankolis, menganggap dunia ini tak adil bagi mereka sehingga penghuni dunia tiba2 menjadi musuh mereka.
    Ramai berita ttg terlantarnya pasien di daerah2. Ibu yang melahirkan di toilet puskesmas krn sang dokter pimpinan puskesmas mengajak para stafnya mogok, Belum lagi pasian kanker yg marah2 karena tdk mendapat pelayanan, sambil menahan sakit dia malah mendapat ‘huuu….’ dari para dokter yg nongkrong2 ngeliatin dia yang sedang berjuang untuk memperpanjang hidupnya.
    Para dokter, tidak ada dosa rakyat miskin. Dia tak tau apa2 dgn yg sedang terjadi.
    Fitnah pun berseliweran, saat seorang teman memaki salah seorang wakil rakyat dgn sebutan DONGOK sambil menshare tulisan ttg malpraktik yg dikomentari sang wakil rakyat. Ternyata begitu dibaca, beliau tdk mengkomentari secara detil kasus dr Ayu. Ia hanya menjelaskan proses hukum bisa diambil oleh para dokter. Sang anggota Komisi III itu pun rame dibully oleh para rekan dokter. Saat saya coba menjelaskan, saya malah diajak debat. Akhirnya saya pun diblokir.
    Hmmm…. begitulah. Saya hanya minta para dokter, kembalilah menjadi dokter –dan manusia. Sebagai manusia, anda yakin bahwa salah & silaf adalah lumrah. Anda bkn malaikat, dan yang tdk bersama Anda bukanlah setan.

    • drjack_gustiana berkata:

      Terima kasih telah membaca dan memberikan komentar.
      Dikotominya memang lebar sekali, ketika ancaman datang biasanya ujungnya memang ancaman lagi. Pembelajaran berharga agar terus memperbaiki keterampilan berkomunikasi. Karena niat baik, pesan baik cara komunikasi salah hasilnya jadi berbeda 🙂

    • md berkata:

      Ah ini dia yg paling saya khawatirkan ketika membaca banyak postingan di group DIB :|. Saya sendiri setuju dgn aksi kemarin, hanya berharap teman2 dokter jg mampu menahan diri utk tidak balik memojokkan profesi lain atau ‘memuliakan’ profesinya saja. Lebih baik komentari dgn tenang dan tdk mudah terprovokasi oleh komentar2 miring serta lebih mau menerima masukan, apalagi memblokir mereka yg berbeda. Semakin kita marah, semakin tidak ada dukungan rakyat, pdhl kita butuh itu.

  12. Liza fathia berkata:

    yup, saya setuju dengan dokter. jujur aksi mogok yang kita lalukan justru membuat jurang pemisah antara dokter dan pasien.bukan menghasilkan solusi, malah menimbulkan masalah baru.

  13. rari berkata:

    salam sejawat saudaraku
    ..tunggu..
    1. mungkin ada yg perlu di garis bawahi… rasanya kita tetap diwajibkan untuk melakukan pelayanan (IGD)…bukan kah ini sama saja dengan hari libur atau tanggal merah lainnya ..dimana hampir sebagian besar praktik dokter (pribadi maupun poli) tutup….tertulis jelas di surat edaran IDI…
    saya pun yang bertugas di daerah masih tetap melaksanakan sunatan masal dan pengobatan masal (sukarela)

    2. bukanny jalur advokasi yg lain tidak di tempuh…dr. Nurdadi, Sp.OG (ketua POGI) telah memaparkan … sudah banyak cara yg ditempuh untuk memintakan PK dalam kasus tersebut ..tp tetap saja tidak di diengar…

    terimakasih…

    • drjack_gustiana berkata:

      Dear TS
      terima kasih telah mampir dan membaca serta memberikan komentar.
      Betul sekali memang seperti yang saya tulis, mungkin hanya 5% saja dari kita yang benar-benar meliburkan diri. selain karena Nurani, banyak dari kita juga terikat pekerjaan ke institusi lain, yang tentunya tidak gampang meliburkan diri. yang saya soroti hanya strategi komunikasi serta persiapannya yang kurang matang. persiapan mogok di Indonesia terutama bagi dokter tidak lah gampang karena pertemuan dengan pasien tidak berdasarkan “appointement”, selain itu seruan dari IDI tertanggal 25 Nopember untuk meliburkan diri tanggal 27 Nopember terlalu cepat, sehingga tidak cukup waktu untuk memberitahukan ke Publik , pengguna layanan kita, maksud dan tujuan yang di usung, sehingga kesan yang ditangkap oleh publik, kita hanya mementingkan kepentingan sendiri. bila di asumsikan hari tersebut hari minggu atau hari libur, sangatlah beda, karena publik sudah tahu dan biasa kalau hari minggu memang hari libur juga hari libur nasional, hampir semua orang sudah tahu jauh hari dan sadar kalau hari libur nasional dokter pun ikut libur kecuali pelayanan IGD, atau klinik yang memang buka 24 jam.
      untuk cara advokasi, saya hanya berpendapat belum maksimal sampai memutuskan “Mogok” mungkin upaya hukum sudah dilakukan maksimal tapi dari kacamata saya cara advokasi belum.
      tetap semangat bekerja di daerah dan memberikan pelayanan. Solidarity for Humanity

  14. yelvita roza berkata:

    tulisan yang sangat objektif dengan analisis yang tajam…
    menurut pendapat saya, paradigma dokter di Indonesia “money oriented” mengemuka sejak diadakannya kartu miskin, menjelma menjadi kartu sehat, menjelma lagi menajdi jamkesmas dan akan menjelma lagi menjadi bpjs… dimana notabene semuanya itu diarahkan pada masyarakat yang kurang mampu alias MISKIN… dengan janji politik orang miskin gratis berobat…. suatu kalimat yang sangat menjebak sipemakai dan si pelayan kesehatannya.. karena sistem kesehatan tidak diberdayakan utk mengakomodir pelayanan kesehatan gratis tersebut, Penyelenggara kesehatan ditekan agar memberi pelayanan kesehatan yang layak dan paripurna, tetapi mekanisme dan anggaran utk pelayanan gratis tersebut tidak di optimalkan… Akhirnya yang terjadi pelayanan kesehatan yang sebisanya, dengan keterbatasan disana-sini, seperti kelas rawatan yang paling murah, keterbatasan obat2 yang ditanggung, item pemeriksaan laboratorium yang tidak memadai, operasi elektif yang antri, pemeriksaan radiologi yang dibatasi, jasa penyelenggaraaan yang tidak dibayar pemerintah ke rumah sakit, jasa dokter yang ditekan serendah mungkin… akhirnya muncul ketidak puasan dikalangan masyarakat pemakai jasa layanan gratis dan dikalangan petugas medis sebagai pemberi jasa, si pasien merasa karena mereka miskinlah mereka tidak mendapatkan layanan yang ‘layak’ karena mereka gratis (miskin)… karena mereka pake kartu jamkesmaslah maka mereka tidak sembuh, karena mereka gratis maka pelayanannya bertele-tele… dan sasaran kekecewaan mereka bukanlah pemerintah sebagai provider,bukan rumah sakit sebagai empunya manajemen, akan tetapi dokter…. bagi masyarakat kita, dokter adalah lambang usaha berobat… jd pada saat mereka kecewa, mereka akan komplain ke dokter… mereka akan kecewa ke dokter… itulah yang bertumpuk dari waktu ke waktu… Padahal dokter juga frustasi jika pasien yang diobatinya belum sembuh, karena prestasi seorang dokter diukur dari kesembuhan pasiennya, bukan dari banyaknya harta kekayaan yang terkumpul…. tapi apalah daya, dokter hanyalah bagian dari sistem pelayanan tersebut…. Sementara di lain pihak, bagi para dokter, menjadi dokter adalah profesi, untuk mencari rejeki, guna pemenuhan kebutuhan hidupnya… sistem pengobatan gratis membuat beban kerja para ikter bertambah sementara jasanya berkurang… tentu hal tersebut akan mengurangi kualitas layanan… karena dokter juga manusia biasa dengan kesanggupan tertentu dan terbatas…
    jika saja dokter di Indonesia seperti di negara tetangga kita, yang menghabiskan waktu bekerja di satu rumah sakit saja, bisa bekerja dengan tenang tanpa mikir harus dengan apa menutupi kebutuhan bulan ini karena telah tercukupi dari jasa duduk di satu rumah sakit saja… alangkah tenang dan bahagianya kami bekerja… bekerja di banyak tempat adalah sangat melelahkan, tetapi itu harus dilakukan untuk mencukupi kebutuhannya..
    inilah sekilas analisis saya terhadap runyamnya sistim pelayanan kesehatan kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s