Challenges in achieving MDG 5 target in Indonesia

1. Introduction

The Millennium Development Goals (MDG) were introduced in United Nations Millennium Summit in 2000 (United Nations 2010). The MDG consist of 8 goals, which is a milestones for international cooperation in improving health and development of millions of people around the world that should be achieved in 2015. Three goals were directly related to health, which are MDG 4, reducing infant mortality, MDG 5, reduce maternal mortality and MDG 6, combating against HIV/AIDS, malaria and other infectious diseases. (United Nations 2010)

Ten years after the MDG were declared, progress has been shown by many countries. Maternal mortality, however, is the slowest of the indicators improved by many countries in developing regions and remains the greatest challenge and  Indonesia is one the country (United Nations, 2010).

This essay are looking at how Indonesia is progressing towards MDG 5, the determinants affecting it, the existing policies and strategies in reducing maternal mortality, the challenges and the recommended strategy to move forward.

2. Indonesia Country Profile

Figure 1. Map of Indonesia

2.1 Geographic, Demographic, Economic and Administrative Profile

Indonesia is the largest archipelago in the world.  It consists of more than 17.000 islands with approximately 900 of them were inhabited permanently. It has 5 main islands, which lies between the continents of Asia and Australia as well as the Indonesia Ocean and the Pacific Ocean (Figure 1) (BPS Indonesia 2010).

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , | 4 Komentar

“dedicatio for humanitate”

Bandung, 19 Agustus 2010

Hari ini tepat berkenaan dengan World Humanitarian Day 2010, dimana semua orang yang terlibat sebagai pekerja kemanusian merayakanya, kemungkinan besar untuk mengingatkan kembali tujuan dari pekerjaan-pekerjaan yang di lakukan oleh kita semua. Coba lihat video di link di bawah ini yang cukup menarik di tonton untuk mengenalkan apa, dimana dan siapa saja yang menjadi pekerja kemanusiaan.
world humanitarian day 2010

Tepat di hari ini saya berkesempatan di undang kembali oleh FK-UNPAD untuk berbicara ke para mahasiswa baru FK-UNPAD 2010, mengenai beberapa pilihan pekerjaan yang bias di pilih oleh para dokter. saya bersama Ahmad Faried MD PhD, teman seperjuangan sewaktu kuliah yang sekarang sudah menjadi Scientist ahli Stem Cell, dan Prof. DR. David Sontani, dr SPBP (K) dokter spesialis bedah plastik, guru besar di Unair yang juga lulusan UNPAD.

Saya sendiri menceritakan mengenai pekerjaan saya yaitu sebagai pekerja kemanusiaan dan juga seorang social entrepreneur, sedangkan Faried bercerita mengenai Pekerjaan nya sebagai Peneliti yang sudah mendunia dengan puluhan bahkan ratusan jurnal internasionalnya, sedangkan tentunya Prof David berbicara sebagai seorang dokter ahli bedah plastik dan juga guru besar di Unair.

Dari berbagai cerita ada beberapa kesamaan dari kami bertiga, pertama kami bertiga jadi dokter karena tidak masuk pilihan pertama dan juga karena keinginan orang tua, kami bertiga suka main band, tukang main dan jalan-jalan sehingga lulusnya lama lebih dari yang biasanya dan yang paling utama adalah kami bertiga adalah anggota Atlas Medical Pioneer FK UNPAD, organisasi pecinta alam yang ada di FK UNPAD.

Maksud tujuan kita bertiga berbicara yaitu memberikan wawasan mengenai pilihan pekerjaan yang bisa di lakukan oleh dokter, dan selain itu juga mengingatkan kembali bahwa profesi dokter adalah profesi yang tujuannya untuk kemanusiaan. Seperti yang tercantum dalam Sumpah Dokter.

Mudah-mudahan apa yang kami bertiga sampaikan bisa bermanfaat bagi calon-calon dokter masa depan, agar bisa lebih baik dari kami bertiga sekarang dalam menjalankan tugas berat kami mendedikasikan hidup untuk kemanusiaan seperti yang telah kami ucapkan dalam sumpah kami

“Dedicatio for Humanitate” adalah slogan dari profesi dokter yang telah di perkenalkan ke saya sejak saya masuk kuliah dan selalu di ingatkan oleh para guru guru saya sewaktu kuliah dan mudah-mudah tetap bisa dijalankan sampai akhir nanti.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | 3 Komentar

Ayo Hemat Air

Dua minggu yang lalu, saya berada di Medan, setelah pulang mengunjungi teman-teman di Meulaboh yang sedang mengerjakan program Pengurangan Resiko Bencana yang sudah berjalan satu tahun.

Sambil tiduran di kasur dengan backround TV swasta yang menyiarkan mengenai judi sabung ayam, saya browsing beberapa foto di album Iphoto yang saya simpan sambil melamun dan kembali mengingat pembicaraan sore tadi bersama seorang teman lama di Medan.

Jadi setelah mendarat pagi-pagi dari Meulaboh dengan pesawat kecil berbaling-baling satu yang di punyai pengusaha ikan dari Pangandaran yang terkenal itu. Tadi sore saya ketemu teman lama, yang sangat berjasa dalam membantu saya di awal-awal pembentukan IBU Foundation dengan meminjamkan Basecamp Medan lebih dari 6 bulan gratis, selama saya dan teman-teman menjalankan response emergency di Aceh.

Dari ngalor ngidul mengenai social entrepreneurship, perkereta apian di Indonesia, layanan publik, obligasi dan persahaman, keluarga, business development, travel, diving dan mengenai program housing di Pariaman di sebuah café di Medan, satu hal yang menarik adalah pembicaraan mengenai bagaimana mengurangi pencemaran air di Bandung.

Seperti di ketahui pencemaran air di Bandung sangatlah memprihatinkan dimana hampir semua sungai di bandung berwarna hitam dan berbau menusuk apalagi kalau musim kemarau. Dan salah satunya selain dari pabrik pabrik yang menghasilkan limbah dan membuangnya ke sungai, yang semuanya di tampung di Sungai Citarum yang di bendung di Saguling.

Dari obrolan tersebut ,Ita bilang bahwa sekarang lagi ada trend dalam perumahan (Ita mempunyai perusahaan developer di Medan) adalah membuat fasilitas air bersih dari Air Hujan dan Mendaur ulang pemakaian air rumah tangga (air bekas cucian, etc) agar selalu bisa di pakai secara terus menerus, jadi pemakain air bisa di hemat dan mengurangi pencemaran air yang terbuang dari rumah tangga.

Bayangkan, menurut SPHERE Standard, standard minimum dalam keadaan bencana, setiap orang membutuhkan 15 liter perhari untuk kebutuhannya termasuk Minum, memasak, cuci-cuci etc. Jadi dalam keadaan normal pasti akan lebih lagi, mencapai 50 Liter per hari, kalau ada kendaraan seperti mobil mungkin nambah lagi apalagi mobilnya lebih dari 2 yang selalu di cuci di rumah. Kalau setiap keluarga ada 5 orang, dan kebutuhan air untuk minum dan makan sekitar 5 liter (pasti kurang dari itu) berarti tiap orang akan membuang air yang sudah tercemar sabun etc sebesar 10 Liter per hari, per keluarga 50 Liter/hari atau 1.500 liter per bulan.
Bayangkan Kota bandung dengan populasi tahun 2008 yang hampir mencapai 2,4 juta orang, belum di tambah mahasiswa yang kost, perantau yang gak punya KTP Bandung kaya gwe, sama Turist yang selalu memenuhi hampir semua kamar hotel di bandung. Hitunglah secara kasar ada 2.5 Juta orang memakai air per harinya, membuang air yang sudah tercemar sabun etc. berarti ada 20.5 Juta Liter air tercemar di buang ke sungaim yang akhirnya di Sungai Citarum..! gila bro, itu sedanau kali air tercemari. Melihat fakta tersebut wajar lah kalau Air di citarum selalu hitam pekat, kerasa banget deh kalau lagi arung jeram di Bantar Caringin…!!

Sepertinya sudah saatnya teknologi murah meriah di tawarkan ke rumah-rumah di kota bandung untuk bisa menghemat penggunaan air. Biar lah air hujan saja yang memasuki sungai, bukan air yang berasal dari wastafel, kamar mandi atau tempat cucian kita. Nah sekarang PRnya adalah mencari teknologi tersebut, bila teman-teman ada yang tahu, tolong kasih tau ya, maklum saya cuma kuliah di kedokteran jadi gak terlalu tahu mengenai teknologi-teknologi tepat guna..!! dan kalau ada harga kira-kira berapa ya, kalau bisa murah mungkin saya akan terjun langsung dalam bisnis ini.

Memang sudah saatnya kita menghemat air, so .. Ayo kita hemat penggunaan air kita, dan bila memungkinkan mendaur ulang sendiri pemakaian air sehari-hari kita yang tercemar sabun atau detergen..!

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar